"Jika kamu menegur saudaramu dalam sembunyi (face to face), maka kamu telah menjalankan tanggungjawabmu, sebaliknya jika kamu menegurnya di khalayak umum, maka kamu telah membogelkannya di depan orang ramai." -Imam Syafie

"Andai kamu penat melakukan kebaikan, ketahuilah sesungguhnya kepenatan itu akan hilang dan kebaikan itu akan kekal dan jika kamu seronok melakukan kejahatan, ketahuilah bahawa keseronokan itu akan hilang dan kejahatan itu akan kekal"

~ muhasabah diri~

Thursday, December 1, 2011

ia Perlukan Angin



بسم الله الرحمن الرحيم


" ia perlukan tiupan angin agar ia jadi kuat. Tanpa tiupan angin ia akan lemah"

Itu kata-kata pensyarah Hortikultur saya bila dia sedang seronok menceritakan tentang teknik penanaman pokok bunga Crysanthemun.


Zap!

Terus je menusuk di hati saya " Manusia juga begitu".

Tahu tak? Angin itu ujian buat Crysanthemum itu dan ia perlukan angin itu untuk jadi kuat.

Hah, begitu jugalah manusia, kita perlukan ujian agar kita terbentuk menjadi lebih kuat.

Herm, benarlah hakikat penyataan ini;

" Ujian itu tanda Allah sayangkan kita"

Teringat pula kisah si monyet yang diceritakan oleh Sang Murobbi dimana katanya,

Suatu ketika seekor monyet sedang memanjat pohon kelapa, setelah cukup lama di pohon itu. Datanglah angin topan, tornado, dan bahorok. Ketiga angin itu berkumpul untuk beradu kekuatan siapakah diantara mereka yang paling kuat dan mampu menjatuhkan Si Monyet dari atas pohon kelapa.

Angin topan mencoba untuk pertama kali, WUUUUUUSSSSS….dia bertiup sekencang-kencangnya. Tapi Si Monyet berpegangan erat di batang pohon kelapa itu dan tidak jatuh.

Lalu angin tornado mencoba kekuatannya, SWIIIIIINGGGGG…. dia bertiup berputar-putar, tapi tetap saja si monyet tidak jatuh. Angin tornado menyerah dan mempersilakan angin bahorok menunjukkan kekuatannya.

Angin bahorok mengeluarkan semua kekuatannya tapi Si Monyet semakin erat bertahan di batang pohon kelapa. Datanglah angin sepoi-sepoi menyapa ketiga angin yang terlebih dahulu datang. Berkatalah si angin sepoi-sepoi bahwa dia bisa menjatuhkan monyet di pohon kelapa itu. Ketiga Angin tertawa,

“Mana mungkin”. Fikir mereka, mereka yang sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya saja tidak mampu menjatuhkan Si Monyet, apalagi angin sepoi-sepoi yang lemah lembut.

Angin sepoi-sepoi menghampiri Si Monyet dan meniup pelan ubun-ubunnya.

“Hmmm enak, adem, nyaman” pikir si monyet. Karena keenakan Si Monyet jadi ngantuk dan melepaskan pegangannya lalu terjatuhlah Si Monyet dari atas pohon kelapa.

~ Sumber~


Nah nampakkan?

Keenakan dan kesenangan itu yang membuatkan kita hayut lalu jatuh terseungkur tanpa kita sedari.

Semoga kita tidak menjadi seperti monyet itu dan jika datang suatu kesenangan jadikan ia sebagai suatu asbab untuk kita terus semakin dekat dengan Allah..

Mari kita renung-renungkan bersama dan mari beramal bersama..

Astaghfirullah.. Wallahua'lam.






No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...